Mengapa saya pilih Jokowi?

Home / Opini / Mengapa saya pilih Jokowi?

Oleh: Arimbi Heroepoetri.,S.H.,LLM

(Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari)

Banyak alasan mengapa seseorang memilih Jokowi dalam Pemilu untuk Presiden (Pilpres) tahun 2014 dan 2019.  Ada booklet yang menuliskan “33 Alasan #TETAPJokowi”, bahkan PKPBerdikari bekerja sama dengan Seword –pernah melakukan Lomba Menulis “Harus pilih Jokowi” kepada masyarakat. Secara pribadi alasan saya memilih Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019 berbeda. Untuk tahun 2014 alasan saya adalah ‘Karena ia orang biasa’ sedangkan untuk Pilpres 2019 alasan saya adalah karena ia satu-satunya kandidat yang membicarakan dan menerapkan keberagaman.

Orang Biasa

Sudah menjadi rahasia umum di negeri  ini, jika ingin menduduki  jabatan tertentu ada dua prasyarat utama yang perlu disiapkan:  Pertama, terkenal, entah karena turunan dari penguasa sebelumnya, maka tidak heran banyak kepala daerah ataupun petinggi partai membangun dinasti, entah istri, anak maupun kemenakan. Atau dikenal karena memang sudah menjadi figur publik, jalan pintasnya adalah artis, bahkan pelawak menjadi laris dilamar partai politik untuk menjadi kandidat anggota parlemen. Kedua, memiliki dukungan dana. Akan lebih baik jika ia memiliki modal dana sendiri, seperti  Sandi Uno yang konon menggelontorkan dana Rp. 1.5 trilun untuk pencalonannya sebagai calon Wakil Presiden.  Ataupun Harry Tanoesudibjo yang membuat Partai Politik sendiri; Perindo. Itulah modal awal untuk maju menjadi pemimpin di negeri ini, tanpa kedua hal tersebut, sangat sulit mendapat dukungan.  Karena itu, hampir mustahil  bagi orang kebanyakan  mencapai jabatan puncak.

Namun kehadiran Jokowi meluluh lantakan premis di atas, ia hanyalah mahasiswa biasa fakultas kehutanan Universitas Negeri (UGM) yang menjadi pengusaha mebel sukses, kemudian maju menjadi Walikota Solo, melangkah ke Jakarta menjadi Gubernur, dan akhirnya menjabat sebagai Presiden RI ke-6. Ia hidup berkecukupan, namun tidaklah cukup untuk menjadi modal bagi kampanye politik sebagai Gubernur DKI maupun Presiden RI. Ia bukanlah artis yang terkenal, jauh dari tampan,  ia bukan juga anak ataupun menantu dari Jenderal terkenal di negeri ini. Ia orang biasa, orang kebanyakan.

Keberhasilan Jokowi sebagai orang biasa menduduki jabatan Presiden menginspirasi banyak orang biasa lainnya untuk maju, bekerja keras, membangun harapan dan memicu kepercayaan diri (self esteem). Saya masih ingat banyak yang bicara: “biar sekolah susah, siapa tahu besar nanti bisa jadi Presiden seperti Jokowi”.

Baca:  Presiden Jokowi Tegaskan Komitmen Pemerintah Selesaikan Perhutanan Sosial dan Reforma Agraria

Keberagaman

Untuk Pilpres 2019, saya masih memilih Jokowi dengan alasan Jokowi menjaga keberagaman dengan bahasa yang mudah dipahami publik. Pada masanyalah istana menjadi berwarna, upacara-upacara di istana dihadiri para pejabat dengan memakai berbagai macam baju adat yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Ia kepala Negara yang kerap menerima delegasi  masyarakat adat dari berbagai belahan nusantara, termasuk berbagai asosiasi kerajaan dan kesultanan yang dulu pernah ada di Indonesia. Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, tidak lupa ia dan pasangannya menyesuaikan diri dengan memakai baju dari daerah yang bersangkutan.

Baju adat di masa lalu hanya dianggap pantas dikenakan ketika  merayakan Hari Kartini, atau sebagai kostum tari maupun musik, kini mulai dikenal orang, dan mendorong berbagai kalangan untuk bangga dengan jati dirinya.  Dalam melakukan salam, Jokowi juga menerapkan ‘salam pluralism’ sejak beliau dilantik di tahun 2014. Salam ini kemudian menjadi trend dan biasa dipakai sampai sekarang.

Jokowi konsisten menerapkan asas Bhineka Tunggal Ika: Beraneka namun satu. Jokowi memahami bahwa Indonesia secara de facto, adalah bangsa yang memiliki keberagaman yang tinggi.   Dari hamparan alam hutan hujan tropis, sampai padang savana di daratan. Dari keanekaan perairan padang lamun, terumbu karang dan hutan mangrove. Inilah negeri dengan kekayaan sumber hayati tertinggi ketiga di dunia, hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, dan garis pantai terpanjang keempat di dunia, serta pemilik lahan gambut tebesar didunia. Negeri yang juga di huni oleh komunitas yang hidupnya bergantung dari alam yang tinggi kekayaannya ini, menciptakan masyarakat yang majemuk dan adaptif pada lingkungannya secara terus-menerus, sehingga menghasilkan komunitas yang beragam juga dalam segala aspek kehidupan. Sebut saja pengelolaan air subak di Bali, beje di di Kalimantan, ataupun tata kelola organisasi dalam  Nagari di Sumatra Barat, desa di Jawa dan Bali, Banua di Kalimantan Barat, Lembang di Toraja hanyalah beberapa contoh dari model atau pola yang merepresentasikan keberagaman masyarakat dan lingkungan di Indonesia. Semua itu adalah kekayaan bangsa Indonesia yang potensial sebagai modal dasar perkembangan kebudayaan nasional Indonesia di segala bidang kehidupan.

Baca:  Megawati Soekarnoputri: Duka Cita Mendalam Atas Wafatnya Alm Sutopo , Pejuang Sosial Kemanusiaan

Konsekwensi lainnya adalah melahirkan komuniti yang memiliki berbagai macam bahasa ibu, yaitu bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang sebagai penutur asli dari bahasa tersebut. Kepandaian dalam bahasa asli sangat penting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir. Karena itu tidaklah mengherankan jika Komite Ekosob memberikan rekomendasi kepada Indonesia, pentingnya untuk mempertahankan bahasa ibu, karena kehilangan penutur bahasa ibu, berarti musnahnya komunitas penutur tersebut.  Sampai sekarang data pasti mengenai jumlah bahasa ibu yang masih aktif dipakai di Indonesia belum ada, namun berdasarkan data BPS 2010 Terdapat 1211 bahasa (1158 bahasa daerah) yang diberi kode oleh BPS tahun 2010.[1] BPS juga menemukan bahwa mayoritas penduduk Indonesia masih tetap menjaga dan mempertahankan identitas kesatuan sosial budayanya masing-masing. Hal ini ditunjukkan dengan presentase penduduk yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi sehari-hari yang mencapai sebesar 79,5 persen.[2]

Jokowi memahami berbagai macam keberagaman yang menjadi pondasi Indonesia, yaitu keberagaman ruang hidup, keberagaman bahasa, keberagaman agama dan kepercayaan, keberagaman tata pemerintahan, dan keberagaman dalam komunitas  sebagaimana para Pendiri Negara telah menyadari realitas tersebut sebagai landasan bagi pembangunan bangsa Indonesia. Atas dasar itulah mereka merumuskan bahwa negara Indonesia terdiri dari Zelfbesturende landschappen dan Volksgemeenschappen di dalam UUD 1945 (sebelum amandemen). Langkah ini mempunyai dua sisi implikasi. Pertama dengan menyerap kekhasan tiap kelompok masyarakat, maka negara Indonesia yang dibentuk berupaya menciptakan satu bangsa. Kedua, pengabaian terhadap eksistensi kelompok-kelompok tersebut akan berimplikasi pada kegagalan cita-cita membangun satu bangsa Indonesia.

[1] Sumarwanto dan Tono Iriantono (peny)., Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia HASIL SENSUS PENDUDUK 2010,  Badan Pusat Statistik,2011, Jakarta

[2] Ibid., hal. 15

WhatsApp chat