Minal Aidin Wal Faizin, Kisah Tak Ada yang Instan dari Film Aladdin

Home / Opini / Minal Aidin Wal Faizin, Kisah Tak Ada yang Instan dari Film Aladdin

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Minal aidin wal faizin, yang kira-kira artinya, “Semoga kita termasuk menjadi orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang.”

Omong-omong, di masa libur kali ini, selain bersilaturahmi dengan keluarga, apakah Anda sempat menyaksikan film yang khusus diputar di gedung bioskop sebagai sajian hiburan keluarga di masa liburan Lebaran?

Berpuluh tahun lalu, kita kerap disuguhkan film Warkop Dono Kasino Indro, yang sengaja diputar masa penayangannya dua kali setahun. Saat libur Idul Fitri dan menyambut libur Natal-Tahun Baru, masa di mana keluarga kerap menghabiskan waktu bersama.

Di libur Lebaran kali ini, ada beberapa film yang sengaja masuk masa tayang untuk menemani waktu di sela silaturahmi keluarga kita. Dari produksi dalam negeri ada Raditya Dika: Single Part 2, Hit and Run, Ghost Writer dan juga Si Doel The Movie 2, sementara dari Hollywoood ada Godzilla II: King of The Monsters dan Aladdin.

Nah, Aladdin. Ini bukan tontonan yang baru sama sekali, tapi versi remake produksi Walt Disney 2019 yang dibintangi Will Smith, Naomi Scott, Mena Massoud, dan Marwan Kenzari ini tetap menarik untuk ditonton, tak kalah dengan film animasi yang diluncurkan Disney pada 1992.

Alkisah, film ini menceritakan tentang seorang anak jalanan, yatim piatu nan miskin di negeri Agrabah. Aladdin, sang pemuda itu hidup bersama monyet kesayangannya bernama Abu. Mereka dikenal sebagai pencopet yang bekerjasama mengambil dompet, perhiasan, buah, alat musik, dan barang berharga lain di keramaian pasar, yang tak jarang hasil curiannya dibagi kepada orang miskin lain nan membutuhkan.

Baca:  Peninjauan TPI Sodohoa dan Dialog dengan Penerima Kredit Ultra Mikro di Kendari

Nasib Aladdin berubah saat ia jatuh cinta pada Putri Jasmine, dan mendapat tuntunan agar pergi ke gua mengambil lampu ajaib berisi jin alias ‘Genie’. Usai menggosok lampu ajaib itu, Genie memberi kesempatan bagi Aladdin mengucap tiga permintaan yang akan dikabulkannya. Hanya dua permintaan yang tak bisa dilakukan Genie, “Membuat orang lain jatuh cinta padamu dan membangkitkan orang mati.”

Satu permintaan pun diucapkan setelah sukses keluar dari gua: Aladdin ingin menjadi pangeran dari sebuah negeri antah berantah bernama Ababwa. Dengan menjadi pangeran, maka posisi tawarnya di depan Jasmine jauh lebih tinggi daripada saat dikenal sebagai pencopet jalanan. Di sinilah plot film berjalan selama dua jam lebih, hingga Aladdin harus berjuang keras mempertahankan lampu ajaibnya dan mengucap dua permintaan magis berikutnya.

Pada akhirnya, ia merasa lebih bahagia hidup sederhana. Tanpa lampu ajaib dan tanpa permadani terbang. Hidup biasa dan mendapatkan cinta secara natural. “Semakin banyak kau punya, semakin banyak kau mau,” kata Genie pada Aladdin.

Pelajaran utama dari film ini: hidup itu perlu proses dan kerja keras panjang untuk mencapai keberhasilan. Tak ada jalan instan yang membawa kedamaian.

Tak ubahnya seperti wawancara Jokowi dengan Cak Lontong beberapa saat lalu. Dalam video yang diunggah akun youtube Presiden Joko Widodo, Maret 2019 lalu, Jokowi tampak akrab berbincang dengan komedian asal Jawa Timur bernama asli Lies Hartono itu.

Baca:  Kesan Presiden Jokowi Setelah Jajal MRT untuk Kali Ketiga

Awalnya, Cak Lontong mencoba memaparkan filosofi kepanjangan dari nama ‘Jokowi’.

“Jo.. artinya selalu kerjo   Ko…enggak pernah neko-neko Wi… untuk ibu pertiwi,” urai pelawak yang merintis karir sebagai anggota kelompok Ludruk cap Toegoe Pahlawan dari kampus Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Jokowi terkekeh. Cak Lontong pun kembali menggoda.

“Nuwun sewu, bapak bisa nyetir mobil, Pak?” tanya Cak Lontong.

Dengan penuh percaya diri, Jokowi pun menjawab bisa. “Bisa, saya memiliki SIM  A, Sim B punya dan  SIM C juga punya.”

“Wah lengkap. Yang nggak punya apa dong?” kejar Cak Lontong.

“Yang nggak punya Sim Salabim,” jawab Jokowi spontan sambil berseloroh.

Giliran Cak Lontong terbahak.

Dalam penjelasannya, Jokowi berujar, tidak mungkin segala sesuatu dalam hidup dilakukan dengan instan, layaknya pesulap menyebulkan mantra ‘sim salabim’ untuk menunjukkan keahliannya.

“Apalagi membangun negara. Tidak bisa instan. Semua harus melalui proses, proses, proses yang panjang. Karena ini adalah negara yang panjang. Tak mungkin langsung berucap, ‘Sim Salabim’, langsung sejahtera,” papar Jokowi.

Begitulah, Jokowi dan Aladdin telah mengajarkan, semua hal yang harus dilalui dengan kerja keras dan proses panjang. Tak baik bila tiba-tiba semua berubah secara drastis, jadi kaya, jadi sejahtera, atau mendadak membuat seluruh orang menyukai kita. Lalu tiba-tiba kita menyadari, jatah permintaan magis itu pun telah habis, dan semua kembali menjadi normal…

Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin, selamat memetik pelajaran dari film Aladdin…

Sumber : jokowidodo.app

WhatsApp chat