PEREMPUAN dan MRT: Kerinduan dan Kebanggaan Masyarakat

Home / Opini / PEREMPUAN dan MRT: Kerinduan dan Kebanggaan Masyarakat
Tak sampai seminggu sejak saya menayangkan dalam ‘Facebook’ saya tentang delapan orang perempuan yang bekerja di MRT. Status tersebut mendapatkan 589 Likes, 115 komentar dan 251 Shares. Ini luar biasa menurut ukuran rata-rata reaksi dari status-status FB saya terdahulu yang biasanya berkisar di 60 Likes. Meski menurut sebagian orang mungkin angka-angka tersebut cukup biasa.

MRT adalah singkatan dari Moda Raya Terpadu, kemudian dinamai Ratangga yang berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti Kendaraan Beroda. Proses pembangunannya dimulai tanggal 10 Oktober 2014 dan diresmikan tanggal 24 Maret 2019. MRT ini menargetkan mampu mengangkut 300 ribu penumpang per harinya. MRT Tahap I yang baru saja diresmikan adalah rute Lebak Bulus – Bunderan HI sepanjang 15,7 km. Kelak akan ada beberapa rute sehingga seluruh Jakarta akan terkoneksi, saling terhubung.

Peresmian MRT di Jakarta oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menjadi polemik oleh netizen, dipertanyakan mengapa proyeknya MRT ini diresmikan oleh Presiden? bukannya oleh Gubernur saja, mengingat letak MRT adalah di Jakarta dan dikelola oleh BUMD, PT. MRT Jakarta, milik propinsi DKI. Atau, ini bukan prestasi Jokowi, tetapi Gubernur DKI sebelumnya. Jokowi sempat menjawab tuduhan itu dengan menyatakan bahwa MRT adalah keputusan politik saya dan Ahok (Wakil Gubenur DKI waktu itu), ketika ia masih menjabat Gubernur DKI tahun 2012. Keinginan untuk membangun MRT di Jakarta, sebagai ibu kota Negara, sudah dimulai sejak 30 tahun lalu, namun selalu bermasalah dalam eksekusi. Bahkan jejak tiang pancang mangkrak proyek MRT terdahulu masih tersebar di beberapa ruas jalan di Jakarta, tanpa kejelasan dan kepastian pembangunan.

Baca:  Masyarakat Adat dan Kesultanan (Kerajaan) di Indonesia

Keputusan politik yang berani diambil oleh Jokowi adalah dengan mengadakan pendanaan untuk mendukung proyek MRT, melalui skema pinjaman lunak dari JICA (Japan International Cooperation Agency), pinjaman sebesar 48 miliar yen, dengan masa tenor pinjaman 30 tahun (untuk Tahap I). Ini diambil berdasarkan kajian Bapenas tentang kerugian akibat kemacetan di Jakarta sudah mencapai Rp. 60 triliun per tahunnya. Jokowi memperkirakan kerugian itu akan semakin membesar, jika masalah kemacetan tidak diurai dari sekarang.

Terlepas dari keributan yang tidak begitu penting itu, sebenarnya masyarakat umum sudah memendam kerinduan akan hadirnya MRT di Indonesia. Terutama di Jakarta. MRT dianggap sebagai simbol Negara modern, selain sebagai salah satu solusi mengatasi kemacetan yang semakin mencekik di kota besar. Kerinduan itu terlihat dari sambutan masyarakat pada masa 10 hari uji coba MRT yang selalu membludak pesertanya. Singkat kata, kehadiran MRT ternyata telah menyedot perhatian masyarakat. Bukan hanya mereka yang tinggal di Jakarta, tetapi mereka yang tinggal di luar Jakarta, juga sangat antusias dan ingin merasakan untuk menaiki MRT.

Di luar itu, ternyata masyarakat juga menyimpan kebanggaan tersendiri ketika mengetahui dari puluhan ribu pekerja di MRT, ada beberapa perempuan yang menduduki jabatan strategis, jabatan yang kebanyakan dipegang oleh laki-laki; ada Kepala Departemen Engineering, Direktur Konstruksi, sampai Inspector. Nampaknya hal ini yang mendorong mengapa laman facebook saya menjadi ramai dimampiri oleh ratusan netizen.

Baca:  Presiden Jokowi Serahkan 2.000 Sertifikat Hak Atas Tanah di Manado

“Keren”, “perempuan luar biasa” demikian beberapa komentar dari mereka. Mereka bekerja keras untuk memenuhi target pembangunan MRT, jauh dari keinginan untuk muncul dan terkenal di media massa. Seharusnya rasa rindu dan bangga ini yang ditangkap oleh para netizen, perasaan dari kebanyakan masyarakat yang enggan ikut ribut dengan para netizen nyinyir, perasaan para ‘silent majority’.

Para perempuan di balik pengerjaan MRT patut menjadi perhatian kita. Karena di balik proyek membangggakan beranama MRT ini, mereka sejatinya bisa menuangkan banyak cerita. Namun mereka memilih bekerja dalam senyap, fokus menyelesaikan tugas sesuai rencana. Seolah tak peduli orang akan melihat mereka telah ikut berkontribusi atau tidak. Pokoknya MRT selesai.

Pada akhirnya inilah karya kita bersama, berangkat dari niat dan keyakinan yang sama, bahwa kita mampu, kita bisa untuk memiliki MRT. Peran para perempuan di balik pengerjaan MRT juga bisa menjadi catatan, bahwa kita ini sama.

Oleh: Arimbi Heroepoetri.,S.H.,LLM

(Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari)

 

Keterangan Foto; (dari kiri bawah) Ernie Widhianty Rahardjo – Risk Management; Weni Maulina – Kepala Dept. Engineering; Dewi Sulistyaningsih – Kepala Dept. Project Control & Monitoring; Mega Tarigan – Kepala Divisi Railway Operation; Novi Yohanna – Signaling Telecommunication & IT Engineer; Lukluk Zuraida – Building Inspector; Silvia Halim – Direktur Konstruksi; Lusi Laisina – Inspector.

Sumber: MRT Jakarta

WhatsApp chat