Garap ‘Kisah-kisah Tembikar’, Teater Rumah Mata Buka Ruang Alternatif dalam Berkesenian

Home / Berita / Garap ‘Kisah-kisah Tembikar’, Teater Rumah Mata Buka Ruang Alternatif dalam Berkesenian

Beberapa minggu terakhir, Teater Rumah Mata Medan kerap dikunjungi sejumlah orang penting di luar dunia seni. Mereka ingin melihat langsung bagaimana Teater Rumah Mata yang bersanggar di Museum Situs Kota Cina, Medan Marelan ini, berproses. Terutama dalam menyiapkan garapan “Kisah-kisah Tembikar” karya Guslo Manna sutradara Agus Susilo. Naskah ini sendiri akan dipentaskan di Temu Teater Se-Sumatera di Jambi pada 2-4 Agustus 2019.

Misalnya, pada Minggu, 28 Juli 2019 , Teater Rumah Mata kedatangan seorang peneliti kebudayaan Indonesia asal Inggris, Theresa. Theresa mengaku ingin melihat bagaimana sinergitas yang bisa dibangun antara teater dengan arkeologi.

Proses teater yang dilakukan Teater Rumah Mata rupanya juga menarik perhatian salah seorang komisaris PTPN4, Osmar Tanjung. Osmar yang datang ke sanggar Teater Rumah Mata penasaran ingin menyaksikan proses garapan “Kisah-kisah Tembikar” itu.

Demikian dikatakan pimpinan Teater Rumah Mata, Agus Susilo kepada medanbisnisdaily.com, Selasa (30/7/2019. Dikatakan Agus, adalah sejarawan Ichwan Azhari yang berperan di balik itu semua. Sambung Agus, ia bersama Ichwan yang juga pendiri Museum Situs Kotta Cina, berupaya membuka ruang alternatif untuk memajukan teater di Kota Medan, Sumatra Utara secara umum. Antara lain dengan membangun sinergitas dengan kelompok-kelompok di luar kesenian itu sendiri.

“Aku setuju dengan beliau (Ichwan Azhari-red) bila pemerintah belum berkenan melihat gerakan kesenian di Situs Kotta Cinna, kita bisa buat jalan lain untuk menghadirkan orang-orang yang berkompeten dan punya kepedulian terhadap perkembangan dan kemajuan seni budaya di Sumatra Utara,” kata Agus.

Terkait acara temu teater Se-Sumatra itu, Agus menjelaskan, ada 9 komunitas teater terbaik dari seluruh provinsi di pulau Sumatera yang diundang dalam perhelatan ini. Teater Rumah Mata menjadi duta teater dari Sumatera Utara. Proses karya ini melibatkan 100 persen generasi muda yang tumbuh dan besar di area Situs Kotta Cinna

Kisah-kisah Tembikar, sambungnya, berangkat dari riset proses pembuatan, pendistribusian dan pembentukan peradaban yg berlangsung di Situs Kotta Cinna 11 abad yang lalu. Ada ribuan situs yang tersebar di Sumut, namun sayangnya, pemerintah daerah belum serius mengelola potensi ini untuk dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata.

“Kehadiran Osmar Tanjung dan Ibu Theresa sebagai jalan lain membangun sinergitas berbagai ekosistem, di luar kesenian untuk melaksanakan amanah UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan juga mengaplikasikan Kongres Kebudayaan Indonesia,” terang Agus.

Agus menambahkan, keberagaman kearifan lokal di Sumatra Utara merupakan modal untuk menjadikan daerah ini sebagai barometer kesenian, khususnya teater di Indonesia. Hal inilah yang menjadi dasar pergerakan Teater Rumah Mata di Situs Kotta Cinna, sehingga dalam setiap karyanya selalu berangkat dari sumber-sumber data dan jejak peradaban, harap Agus.

“Perlu upaya yang serius, sistematis dan profesional untuk mewujudkan itu semua. Sinergitas berbagai ekosistem ini yang akan memuluskan gagasan tersebut,” akhirnya.