Telak! Mahfud MD Ungkap Kesalahan Anies Soal PSBB Total! Anies Biang Kerok?

Home / Opini / Telak! Mahfud MD Ungkap Kesalahan Anies Soal PSBB Total! Anies Biang Kerok?

Oleh: Ninanoor

 

Apakah menerapkan PSBB itu salah? Enggak dong, karena ada dasar aturannya dari pemerintah.
Tentu masing-masing kepala daerah menyesuaikan penerapannya dengan berbagai kebutuhan dan tantangan di daerah masing-masing.

Bagaimana kesuksesan penerapan PSBB di daerah masing-masing juga tergantung bagaimana kepala daerah itu mengelolanya dengan baik.  Atau dengan buruk?

Nah, Anies disebut banyak pihak, mengelola PSBB maupun PSBB transisi dengan buruk.

Pertama, karena kebijakan yang dia keluarkan malah kontra-produktif. Bukannya menunjang pencegahan penularan virus Corona, malah menimbulkan resiko tinggi. Contohnya;

Pembatasan moda transportasi yang menyebabkan penumpukan calo penumpang. Atau aturan ganjil genap yang menyebabkan penambahan penumpang transportasi umum sehingga menambah resiko penularan juga.

Kedua, Anies tidak profesional dan tidak adil dalam penerapan aturan. Warga masyarakat dikejar-kejar untuk mematuhi protokol kesehatan. Kerumunan warga masyarakat dibubarkan.

Tapi Anies memberi izin demo dan deklarasi buat teman-temannya sendiri, teman-teman sekubu politik.

Kayak gini ngarep warganya menghormati Anies?

Akhirnya sebagai gubernur, Anies nggak dianggap. Yang memuja-muja dia tinggal buzzer saja di media sosial. Warga masyarakat malah cuek sama Anies.

Kedua masalah di atas sudah cukup sebagai dasar menyebut bagaimana buruknya Anies mengelola DKI Jakarta dalam masa pandemi Corona.  Ya nggak heran, angkanya naik terus. Angka naik, Anies malah bilang dia bersyukur.

Upaya yang dia jalankan ya macam ini, ngeles dan ngeles.

Ketika dia dipanggil menghadap Presiden Jokowi pada akhir Agustus lalu, dia juga ngeles, bilang ada penurunan angka kematian di Jakarta dalam bulan Agustus. Tapi pas dia mengumumkan akan memberlakukan PSBB total beberapa hari lalu, dia telan lagi ludahnya, menyatakan sebaliknya, bahwa ada kenaikan angka kematian di Jakarta dari pertengahan Agustus.

Dasar bisanya hanya menata kata, tapi menganalisa data daerah sendiri nggak bener!

Tapi, Anies tidak pernah menyangka bahwa justru soal tata kata ini yang akhirnya menjadi biang kerok rontoknya IHSG sampai bikin rugi 300 triliun.

Dilansir suara.com, Mahfud MD dengan telak menunjukkan kesalahan Anies dalam kericuhan yang terjadi pasca pengumuman pemberlakuan PSBB total di Jakarta. “Karena ini tata kata, bukan tata negara. Akibatnya kacau kayak begitu,” kata Mahfud dalam seminar nasional Evaluasi 6 Bulan dan Proyeksi 1 Tahun Penanganan Covid-19 di Indonesia secara daring, Sabtu (12/9/2020) malam.

“Pemerintah tahu bahwa Jakarta itu harus PSBB dan belum pernah dicabut. PSBB itu sudah diberikan, ya, sudah lakukan.
Yang jadi persoalan itu, Jakarta itu bukan PSBB-nya, melainkan yang dikatakan Pak Qodari (Direktur Eksekutif Indobarometer) itu rem daruratnya,” kata Mahfud. Nah, jadi akar masalahnya adalah pernyataan Anies “menarik rem darurat”.

Mahfud mengatakan bahwa PSBB itu sudah menjadi kewenangan daerah. Namun, perubahan-perubahan kebijakan dapat diterapkan dalam range tertentu. “Misalnya, di daerah tertentu PSBB dilakukan untuk satu kampung. Di sana, diberlakukan untuk satu pesantren. Di sana, diberlakukan untuk pasar, begitu,” kata Mahfud.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun sudah menjalankan hal yang sama. Namun, tata kata saat mengumumkan PSBB total itu mengesankan bahwa Indonesia akan menerapkan kebijakan PSBB yang baru sehingga mengejutkan secara perekonomian.

“Seakan-akan (PSBB yang akan diterapkan) ini baru. Secara ekonomi, kemudian mengejutkan,” kata Mahfud. Akibatnya setelah PSBB total diumumkan, esoknya, pukul 11.00 WIB para ahli ekonomi menginformasikan bahwa negara mengalami kerugian sekitar Rp 297 triliun karena rontoknya IHSG (indeks harga saham gabungan).

Sampai-sampai transaksi saham dihentikan sementara, saking gawatnya. “Hanya sebentar karena pengumuman itu,” kata Mahfud.

Anies memang begitu kan?

Di depan media dia berusaha menciptakan panggung secara nasional, bahkan internasional.
Tanpa koordinasi dulu dengan pemerintah pusat. Sok bisa dan sok pinter. Yang penting di media namanya tampil.

Dan memang, semua media pada hari Rabu dan Kamis lalu menayangkan berita Anies menarik rem darurat. Seakan Anies ini jadi pahlawan. Padahal kalau dipaparkan situasinya di Jakarta, kenaikan angka Covid ya akibat ketidakbecusan dan ketidakadilan Anies sendiri.

Pertanyaannya, apakah Anies benar-benar sebodoh itu?

Padahal dia ini kan terkenal sebagai ahlinya tata kata. Masak dia nggak tahu efek pernyataannya terhadap pelaku pasar? Masak lulusan Amerika sebuodoh itu? Suara-suara lain di publik bermunculan, memberikan opsi dugaan kesengajaan atas tindakan dan pernyataan Anies ini. Bahwa memang pernyataannya dirancang untuk membuat kekacauan.

Bravo Pak Mahfud, sentilannya telak sekali!

WhatsApp chat