Tim PKPBerdikari Uji Coba MRT Jakarta

Home / Berita / Tim PKPBerdikari Uji Coba MRT Jakarta

Transportasi masal di jakarta memasuki babak baru. Pada Minggu (24/3) Presiden Joko Widodo telah meresmikan Mass Rapid Transit (MRT) atau yang juga dikenal dengan nama Moda Raya Terpadu. MRT dinyatakan siap untuk melayani kebutuhan mobilitas warga Ibukota. Kehadiran MRT juga menjadi harapan baru bagi para masyarakat urban yang sangat bergantung pada layanan transportasi.

Setelah melewati beberapa uji kelayakan, PT MRT Jakarta memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk ikut melakukan uji coba secara gratis. Uji coba publik dijadwalkan berlangsung mulai 12 Maret hingga 23 Maret 2019 pada pukul 08.00-16.00. Untuk dapat melakukan uji publik, masyarakat bisa mendaftarkan diri secara daring melalui situs resmi yang disiapkan penyelenggra, yaitu www.ayocobamrtj.com.

Tim dari PKPBerdikari mendapat kesempatan untuk melakukan uji pubik pada kamis (21/3). Perjalanan dimulai dari stasiun Blok A dan mengakhiri perjalanan di stasiun Bendungan Hilir. Suasana uji publik pada siang itu cukup ramai. Mayoritas peserta uji publik yamg kami temui adalah pegawai yang berkantor di sekitar stasiun MRT. Sebagian mengaku sengaja meluangkan jam istirahat makan siang untuk ikut menjajal moda transportasi yang belakangan menjadi pembicaraan.

Selain penasaran, masyarakat juga berharap bahwa MRT bisa menjadi pilihan rasional dibanding menggunakan kendaraan pribadi untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Sejauh ini berbagai upaya penyediaan transportasi publik dan penerapan regulasi untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi masih belum menuai hasil. Penyelenggara negara gagal ‘memaksa’ masyarakat memarkir kendaraannya dirumah, dan beralih ke transportasi publik.

Baca:  Presiden Jokowi Serahkan 257 Sertifikat Tanah Wakaf di Garut

Hal tersebut juga diakui oleh Stevani (29), salah satu pegawai swasta yang berkantor di bilangan Senayan, Jakarta Selatan. Untuk menuju ke kantor dari rumah di kawasan Depok, ia harus menghabiskan waktu berjam-jam ditengah kemacetan dengan menggunakan mobil pribadi. Kondisi serupa juga dirasakan ketika pulang kerumah sore harinya.

“Dulu pernah naik Busway (Transjakarta). Emang murah, tapi tetep aja kena macet. Udah gitu kondisi di dalam Bus juga penuh sesak. Akhirnya lebih milih naik mobil sendiri aja”, Ujarnya. Stevani tidak sendirian, masih banyak lagi masyarakat yang merasakan hal serupa. Maka, tak heran jika kendaraan pribadi tetap menjadi primadona bagi masyarakat urban.

MRT adalah proyek jangka panjang yang dicetuskan oleh B.J Habibie sejak 1986. Kala itu Habibie menjabat Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Studi-studi terkait pengadaan transportasi cepat dan terpadu itu terus dilanjutkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hingga pada Oktober 2013, Megaproyek MRT resmi dilaksanakan dengan peletakan batu pertama di kawasan yang kini menjadi stasiun MRT Dukuh Atas. Daerah tersebut merupakan kawasan tersibuk di Jakarta Pusat, yang menjadi titik temu berbagai moda transportasi, seperti yang diberitakan Tirto.Id pada Oktober 2017 silam.

Baca:  DOLLAR, UMR DAN BERAS JELANG REFORMASI DAN ERA JOKOWI

Selama masa Uji Coba Publik, setidaknya lebih dari satu kali Pesiden Joko Widodo turut menajajal rangkaian MRT yang juga dikenal dengan nama Ratangga. Dalam sebuah kesempatan, Kepala negara mengatakan bahwa kehadiran MRT ini tidak sekedar menghadirkan layanan transportasi, tapi juga budaya baru.

“Ini budaya baru. Inilah yang akan terus dikenalkan, disosialisasikan, sehingga masyarakat betul-betul tahu bagaimana MRT itu bergerak dari satu stasiun ke stasiun lain,” ujar Presiden dalam siaran pers yang kami terima.

Antusiasme masyarakat dalam menyambut moda transportasi terbaru ini seharusnya diikuti dengan penerapan tarif yang terjangkau. Hal itu perlu diperhatikan supaya manfaat positif dari kehadiran MRT segera dirasakan masyarakat.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta telah menetapkan tarif rata-rata MRT Jakarta sebesar Rp 8.500 melalui rapat yang digelar Senin (25/3). Tarif ini berlaku mulai 1 April 2019 mendatang.

Ketua DPRD DKI Jakarta Praasetio Edi Marsudi, seperti dikutip CNBC Indonesia, mengatakan bahwa tarif yang lebih murah akan semakin menarik minat masyarakat untuk menggunakan MRT ketimbang kendaraan pribadi. Apalagi nantinya MRT akan diintegrasikan dengan moda transportasi lain, seperti Transjakarta hingga ojek online. (HDP/RYW)

WhatsApp chat